Rumah makan sederhana padang
Rumah Makan Padang Sederhana
Restoran Sederhana berawal pada tahun 1972 dari sebuah rumah makan Padang kecil-kecilan milik Bustaman di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta. Dalam mengelola restorannya, Bustaman yang berasal dari Lintau, Sumatra Barat, selalu menyesuaikannya dengan lidah orang kebanyakan, sehingga ia mengurangi rasa pedas dalam masakan Padang buatannya. Ia juga memiliki hidangan khusus, yakni Ayam Pop yang telah dikenal luas. Saat ini, lebih dari 100 restoran Sederhana tersebar di berbagai kota di Indonesia dan Malaysia. Restoran Sederhana telah membuka outletnya di setiap provinsi, kecuali Provinsi Papua.
Hanya sebagian kecil dari jaringan Restoran Sederhana yang dimiliki secara penuh oleh Bustaman, sebagian besarnya ia hanya menerima royalti dari para investor. Hingga saat ini, jaringan Restoran Sederhana adalah jaringan rumah makan Padang terbesar di Indonesia.
Semuanya berawal di tahun 1970, ketika seorang perantau suku Minang dari Tanah Datar, Sumatera Barat, bernama Bustaman yang kala itu masih seumuran saya sekarang, datang ke Jakarta. Bagi masyarakat Minang, merantau adalah sebuah tradisi, dan bahkan kebanyakan dari para perantau enggan pulang kampung sebelum sukses. Demikian halnya dengan Bustaman yang hanya lulusan kelas dua Sekolah Rakyat (setara dengan Sekolah Dasar) itu.
Perantauan Bustaman sebenarnya dimulai sejak tahun 1955 di daerah Jambi. Di sana, dia mengerjakan apa saja untuk mencukupi hidupnya, mulai dari bekerja di kebun karet, menjual koran, mencuci piring di sebuah rumah makan, hingga menjadi pedagang asongan. What a thing he did for a life.
Pada tahun 1970, Bustaman nekat merantau lagi ke Jakarta, dengan hanya bermodal uang Rp32.000,- bersama sang istri, Fatimah, yang baru dua tahun dinikahinya, juga seorang anak hasil pernikahannya. Di Jakarta, Bustaman memutuskan untuk mengadu nasib menjadi seorang … pedagang asongan. Atau tepatnya berjualan rokok dengan menggunakan gerobak di pinggiran jalan Matraman yang saat itu belum ada busway.
Hingga pada suatu hari, timbullah kerusuhan di daerah Matraman antara preman setempat dengan warga Minang yang membuat Bustaman menyelamatkan diri dan keluarganya ke daerah Pejompongan. Entah menggunakan apa saat itu, karena belum ada busway.
Di Pejompongan, Bustaman belum kapok. Dia kembali membuka warung rokok 24 jam dengan penghasilan harian rata-rata sebesar Rp2.000,-. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan penghasilan yang diterimanya ketika berbisnis di Matraman yang mencapai Rp8.000,- per hari.
Kondisi tersebut membuat Bustaman putar otak, dia harus tetap hidup demi keluarganya. Hingga akhirnya, pada tahun 1972, Bustaman memutuskan untuk menyewa lapak seluas 1×1 meter di pinggir jalan Bendungan Hilir seharga Rp3.000,-, yang saat itu belum ada Seven Eleven dan Pizza Hut.
“Masalahnya, saya tidak bisa memasak, tetapi berbekal pengalaman pernah bekerja di rumah makan, saya belajar.”
Dari modal awal sebesar Rp13.000,-, Bustaman mampu menghasilkan omzet Rp425,- pada hari pertama kemunculannya di Bendungan Hilir. Saat itu, Bustaman masih mengutang beras, minyak, dan kebutuhan lain dari tetangganya. Apesnya lagi, hasil dagangannya kala itu ludes dibawa kabur pembantu barunya. Ternyata sudah dari dahulu, modus pencurian yang dilakukan oleh pembantu seperti ini terjadi di Indonesia.
Hal tersebut tidak membuat Bustaman putus asa, dia tetap menjalankan usaha warung kecilnya hingga pada suatu hari dia berkenalan dengan pedagang masakan asal Solok yang berjualan di Bendungan Hilir.
“Saya coba masakannya ternyata enak. Saya lalu memberanikan diri berkenalan dengan pemasaknya dan meminta resep masakan.”
Bermodal menu dan resep baru yang senantiasa berkembang hari demi hari, warung kecil milik Bustaman pun mulai didatangi pelanggan.
x
Suatu hari, Petugas Trantib datang dan melakukan penertiban pedagang kaki lima. Gerobak dagangan milik Bustaman pun ikut diangkut. Saat itu, setiap orang hanya diberi ruang semeter untuk jualan, sementara untuk dapat tempat harus diundi dulu.
Berikutnya, Bustaman bersiasat lagi. Dia menemui pihak terkait agar bisa mendapatkan tempat jualan yang strategis tanpa harus diundi. Berkat lobi dan pendekatan yang baik, usahanya membuahkan hasil. Bustaman berhasil mendapatkan dua tempat dengan kontrak senilai Rp5.000,- saat itu.
Tak lama, nasib sial datang lagi menerpa Bustaman, ketika tempat tinggalnya di Pejompongan terbakar. Untungnya, saat itu Bustaman berhasil menyelamatkan istri, anak, dan aset paling berharganya, yaitu gerobak dagangan. Akibat peristiwa tersebut, Bustaman terpaksa tinggal di rumah salah satu supplier bahan masakannya.
Berawal dari warung kecil yang mulai ramai, Bustaman memberanikan diri untuk menyewa kios di Pasar Bendungan Hilir yang baru dibuka pada tahun 1974 dengan harga sewa Rp15.000,-. Saat itu, mungkin belum ada salon plus plus dan penjahit di pasar tersebut. Namun, mungkin namanya bakat seorang Minang, berkat racikan tangan Bustaman, masakan yang dijual di warungnya pun laris.
“Semua yang dimasak habis. Saya belanja dan masak, istri melayani pelanggan*. Kami belum pakai karyawan karena belum sanggup menggajinya.”
*) istri melayani pelanggan rumah makan, bukan pelanggan penjahit di Pasar Bendungan Hilir.
Perlahan tapi pasti, warung kecil milik Bustaman bertransformasi menjadi restoran dengan masakan khas Padang terbesar di Indonesia, dengan banyak cabang tersebar di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Bustaman pun sudah bukan pula sekadar perantau biasa, kini Beliau sudah menjadi Pak Haji Bustaman, dengan ratusan restoran miliknya.

Mayan buat makan💪
BalasHapusMau nasi Padang gratis dong
BalasHapusMantapp
BalasHapusSelamat / sukses
BalasHapusMantapp
BalasHapusKeep support lokal minang,,minangkan indonesia
BalasHapusLancr yh lek
BalasHapusrancak bana
BalasHapusMantap uda
BalasHapusKEEP GOING TO THE TOP
BalasHapusMakanan padang the best👍👍
BalasHapusSederhana bnget yaa kek rasa ini, sederhana namun indah kau mencibtai ku
BalasHapusUwak uwak pergi ke bioskop
BalasHapusNasi padang top markotop